Keindahan Seni, Apakah Itu?


“What is art? What makes it good or bad, and who decides?”
— Katherine Watson, Mona Lisa Smile (2003)

“Gue juga bisa bikin kayak begitu.”

Kalimat itu hampir selalu muncul ketika seseorang melihat lukisan monochrome dipajang di galeri seni dengan harga yang terdengar tidak masuk akal. Sebuah kanvas dicat biru penuh, tanpa objek, tanpa detail, tanpa kemampuan teknis yang terlihat rumit—setidaknya begitu anggapan kebanyakan orang.

Pertanyaan itu sebenarnya wajar. Saya sendiri pernah mempertanyakan hal serupa. Bagaimana orang bisa berdiri cukup lama di depan karya monochrome milik Yves Klein, sementara di ruangan lain ada The Music Lesson karya Johannes Vermeer yang begitu detail, presisi, dan “jelas” keindahannya?


Rasanya seperti membandingkan telur putih dengan telur Paskah yang telah dihias.

Namun mungkin persoalannya memang bukan tentang mana yang lebih indah.

Sekitar 60 ribu tahun lalu, seni bagi manusia purba bukanlah persoalan galeri, estetika, atau harga lelang. Seni lahir dari kekaguman manusia terhadap keberadaan dunia itu sendiri. Bukan semata karena alam itu indah, melainkan karena alam itu ada. Goresan tangan di dinding gua, jejak kaki pada batu, atau simbol-simbol sederhana menjadi cara manusia meninggalkan tanda bahwa mereka pernah hidup.

Seni, sejak awal, adalah usaha manusia untuk berkata: “Aku pernah ada di sini.”

Di saat bahasa belum memiliki bentuk yang baku, manusia mulai berkomunikasi lewat warna, gerak, dan gambar. Dari situ seni tidak lagi menjadi hubungan antara alam dan seniman saja, tetapi juga melibatkan orang lain yang melihat, membaca, dan menafsirkannya.

Dalam teori klasik, seni terdiri dari tiga unsur: seniman, karya, dan penikmat. Namun seiring waktu, fokus perlahan bergeser. Kadang senimannya yang dianggap penting. Kadang justru karyanya. Kadang pula penontonnya yang menentukan makna.

Karena itu, menilai seni sebenarnya tidak pernah sesederhana mengatakan “bagus” atau “jelek”.

Ada karya yang dianggap berhasil karena sangat mirip dengan realitas. Ada yang dipuji karena mampu mengungkapkan emosi penciptanya. Ada pula yang dinilai dari dampaknya terhadap masyarakat. Sementara sebagian karya justru dihargai karena simbol, bentuk, dan cara ia membangun makna.

Masalahnya, kita sering memperdebatkan seni tanpa sadar sedang menggunakan “bahasa” penilaian yang berbeda.

Seseorang mungkin menganggap sebuah film buruk karena tidak memiliki pesan moral yang kuat. Di sisi lain, orang lain justru menyukai film itu karena keberaniannya menolak moralitas yang terlalu rapi. Dua-duanya bisa benar.

Memasuki abad ke-20, seni bahkan mulai meninggalkan obsesi terhadap keindahan. Banyak seniman modern tidak lagi tertarik membuat sesuatu yang harmonis atau sedap dipandang. Mereka justru ingin menciptakan rasa tidak nyaman, kegelisahan, bahkan kekacauan.

Hal-hal yang dulu ditutupi dengan estetika kini ditampilkan mentah-mentah.

Dan mungkin di situlah seni modern mulai terasa asing bagi banyak orang.

Kita terbiasa menganggap seni harus indah, padahal seni tidak selalu bekerja seperti itu. Kadang seni hadir bukan untuk menyenangkan mata, tetapi untuk mengganggu pikiran. Kadang sebuah karya tidak ingin dipahami, melainkan hanya ingin dirasakan.

Mungkin karena itu pula seni akan selalu bersifat subjektif.

Apa yang kita anggap sebagai karya penting bisa saja terasa kosong bagi orang lain. Dan itu sah-sah saja. Yang lebih penting adalah memahami dari sudut mana kita melihat sebuah karya, sehingga ketika perdebatan terjadi, setidaknya kita sedang berbicara dari jendela yang sama.

Karena tidak lucu juga kalau satu orang membahas seni dari sudut pandang mimetik, sementara yang lain sibuk berdebat secara pragmatis.