Minggu, 13 Mei 2018

Belajar Rumitnya Seni, Layaknya Rasa


Visualisasi ulang dari sampah visual pemilu - 2019 - Iqbal Firdaus
Seni adalah suatu kata yang tidak serius dan tidak menjanjikan hidup mapan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bukanlah suatu hal yang aneh apabila sekolah tinggi pada bidang seni ditolak mentah-mentah oleh orang tua, dengan alasan ‘mau makan apa nanti kalau kerjanya cuma nggambar?’­. Miris sebenarnya, kedangkalan pemahaman mengenai seni hampir tidak tertolong lagi.

Apa yang berguna dari seni (yang diketahui manusia Indonesia pada umumnya), tentu saja untuk menghias barang agar terlihat indah. Tidak hanya itu, namun juga sebagai hobi atau sebatas media hiburan. Padahal sebenarnya tidak hanya itu-itu saja gunanya seni. Indonesia termasuk Bangsa Timur di Bumi. Bangsa Timur pada jaman dahulu dikenal sebagai masyarakat yang berkontemplatif mengenai esensi segala sesuatu hal. Sungguh disayangkan bahwa esensi, didalam filsafat kini dianggap sebagai buku cerita, atau kumpulan pertanyaan aneh dan tidak penting.


Cetak Foto di Galeri Foto Jurnalistik Antara

Namun, bagi orang-orang yang bergelut dalam bidang seni pun sulit rasanya untuk menempatkan ‘seni’ dalam peradaban yang terus berubah. Misalnya saja, dahulu hanya mahakarya yang adiluhung saja yang pantas disebut sebagai seni (Monalisa karya Leonardo da Vinci, David karya Michael Angelo). Dikarenakan aliran-aliran seni selalu muncul bergantian membungkam aliran sebelumnya, sampailah kita pada jaman Pos-modern alias kelewat modern. Di masa ini, tak ada lagi sekat jelas diantara karya yang ‘sungguh-sungguh seni’ dengan perilaku ganjil tak senonoh dari orang-orang yang frustasi atau kehilangan identitas dan sakit jiwa, yang mencari perhatian secara kekanak-kanakan (Sugiharto, 2013 : 15).

"In Bloom" - 2014 - Iqbal Firdaus

Kata ‘seni’ dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang memiliki arti ‘halus’, dan definisinya tidak dapat dipisahkan dengan istilah kagunan (dalam Kamus Bahasa Jawa Tinggi). Seni diuraikan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia lama (1953) sebagai:       
  
(1) Kecakapan membuat (menciptakan) sesuatu yang elok-elok atau indah

(2) Sesuatu karya yang dibuat (diciptakan) dengan kecakapan yang luar biasa (seperti sajak, lukisan, ukir-ukiran dan sebagainya.

Suatu kesinambungan dalam identifikasi kecakapan (dalam istilah seni) dengan kepandaian (dalam istilah kagunan) ialah, keduanya sama-sama menunjuk pada kemampuan keindahan. Perlu diketahui, seni kini tidak lagi memenuhi kaidah kagunan  yang sakral dan spiritual layaknya seni pada jaman dahulu.

Definisi seni menjadi semakin rumit dengan munculnya karya seni kontemporer yang tak terduga dan terkesan mengejek parameter seni yang sudah ada, karya tersebut ialah ‘The Fountain’ oleh Marchel Duchamp, berupa bekas tempat kencing untuk dipamerkan di museum. Secara tak langsung, seni pun mengalami krisis kewibawaannya.

The Photography Institute - Singapura


Perenungan ‘seni’ dan ‘estetika’ berlangsung semenjak jaman filsafat Yunani. Istilah ‘seni murni’ muncul sejak 2500-an tahun yang lalu (Renaisan 15 M), berasal dari Kaum Umanisti yang melakukan kegiatan kontemplatif, yaitu perenungan yang terjadi didalam diri individu. Baru pada abad ke-18, istilah ‘estetika’ dicetuskan oleh Baumgarten yang nantinya dikembangkan oleh Immanuel Kant. Immanuel Kant lalu menggunakan estetika sebagai medan persepsi keindahan melalui indera, terutama lewat karya seni.

Selanjutnya muncullah berbagai anggapan mengenai karya seni. Contoh, Filsafat Hege, 2 perspektif fenomena seni oleh Nietzsche, Clive Bell, Roger Fry, dsb). Dalam Filsafat Hegel, seni itu menuju Ruh Absolut. Seni mengungkapkan / melukis lingkungan orang lain dan diri sendiri. Pada perkembangannya, Ruh tersebut melahirkan efek-efek sepanjang sejarah yang memungkinkan Ruh itu untuk merenungkan tindakan-tindakannya sendiri.

Menurut Nietzsche, ada perspektif Dionysian dan Apollonian. Dionysian, menganggap bahwa seni adalah pengalaman kemabukan yang membuat seseorang bisa melihat sekelebat kebenaran dalam dalam pengalaman yang sublim. Sedangkan Apollonian, dianggapnya bahwa seni merupakan permainan permukaan yang ilusoris, palsu, dan penuh dengan kebohongan yang disucikan untuk memperindah hidup, supaya hidup dapat tertanggungkan.

Dalam seni, ada 3 komponen penting yaitu perupa, karya, dan penikmat. Seorang perupa menciptakan suatu karya, dimulai dengan mencari jalan mengenai bagaimana caranya untuk dapat merasakan sesuatu. Terdapat proses didalam masa pencarian pengalaman seni yang tersusun dari pengalaman memiliki perasaan.     

Manusia memiliki 4 daya/impuls dalam hidup, yang merupakan urusan manusia dalam kehidupan. Ketuhanan, kebaikan, kebenaran, dan keindahan (estetika) adalah keempat komponennya. Penjelasannya, estetika terdiri dari dua objek, yaitu alam yang merupakan buatan Tuhan, dan objek buatan manusia (artistik). Estetika menimbulkan suatu rasa haru, yang mencuat dari dalam diri penikmatnya. Daya-daya tadi, dapat tumbuh dan berkembang dengan cara pengajaran dan pengalaman. Mencerdaskan rasa yang dimiliki oleh peserta didik contohnya, adalah suatu alasan mengapa ada pendidikan seni di sekolah, karena pendidikan seni adalah pendidikan hati.


Seni itu spirit, yang luar biasa. Seni itu bahasa yang tidak biasa, menjlentrehkan yang tidak bisa dijelaskan dengan verbal. Seni selalu berbagi keindahan/perasaan pada orang lain, istilahnya menyalurkan rasa dan persepsi seperti listrik yang nyetrum. Seperti yang dikatakan oleh Scott McCloud (1993), bahwa setiap MEDIA (istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti TENGAH) berfungsi sebagai jembatan ANTARA pikiran kita dengan pikiran orang lain. Sehingga disini, media adalah penyusun suatu karya seni yang menunjukkan estetika karya tersebut melalui instrumen-instrumen estetiknya untuk disalurkan kepada penikmat/pengamat seni melalui indera pengelihatan dan pendengaran. Tujuan akhirnya adalah, menyalurkan rasa yang dirasakan perupa, dalam kata lain, supaya penikmat mendapatkan perasaan sedemikian rupa dikarenakan sebuah karya seni.


Kutipan dari Jujun S. Suriasumantri (2017), seni mengungkapkan suka duka dan pahit getir eksistensi manusia dalam kehidupannya. Tujuan akhir seni, ialah menyimpulkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Akhir kata, seni adalah keindahan yang terpendam dalam lumpur kehidupan fana.