![]() |
| Visualisasi ulang dari sampah visual pemilu - 2019 - Iqbal Firdaus |
Apa yang berguna dari seni (yang
diketahui manusia Indonesia pada umumnya), tentu saja untuk menghias barang
agar terlihat indah. Tidak hanya itu, namun juga sebagai hobi atau sebatas
media hiburan. Padahal sebenarnya tidak hanya itu-itu saja gunanya seni. Indonesia
termasuk Bangsa Timur di Bumi. Bangsa Timur pada jaman dahulu dikenal sebagai
masyarakat yang berkontemplatif mengenai esensi segala sesuatu hal. Sungguh
disayangkan bahwa esensi, didalam filsafat kini dianggap sebagai buku cerita,
atau kumpulan pertanyaan aneh dan tidak penting.
![]() |
| Cetak Foto di Galeri Foto Jurnalistik Antara |
Namun, bagi orang-orang yang bergelut dalam bidang seni pun sulit rasanya untuk menempatkan ‘seni’ dalam peradaban yang terus berubah. Misalnya saja, dahulu hanya mahakarya yang adiluhung saja yang pantas disebut sebagai seni (Monalisa karya Leonardo da Vinci, David karya Michael Angelo). Dikarenakan aliran-aliran seni selalu muncul bergantian membungkam aliran sebelumnya, sampailah kita pada jaman Pos-modern alias kelewat modern. Di masa ini, tak ada lagi sekat jelas diantara karya yang ‘sungguh-sungguh seni’ dengan perilaku ganjil tak senonoh dari orang-orang yang frustasi atau kehilangan identitas dan sakit jiwa, yang mencari perhatian secara kekanak-kanakan (Sugiharto, 2013 : 15).
![]() |
| "In Bloom" - 2014 - Iqbal Firdaus |
Kata ‘seni’ dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu yang memiliki arti ‘halus’, dan definisinya tidak dapat dipisahkan dengan istilah kagunan (dalam Kamus Bahasa Jawa Tinggi). Seni diuraikan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia lama (1953) sebagai:
(1) Kecakapan
membuat (menciptakan) sesuatu yang elok-elok atau indah
(2) Sesuatu
karya yang dibuat (diciptakan) dengan kecakapan yang luar biasa (seperti sajak,
lukisan, ukir-ukiran dan sebagainya.
Suatu
kesinambungan dalam identifikasi kecakapan (dalam istilah seni) dengan
kepandaian (dalam istilah kagunan)
ialah, keduanya sama-sama menunjuk pada kemampuan keindahan. Perlu diketahui,
seni kini tidak lagi memenuhi kaidah kagunan
yang sakral dan spiritual layaknya
seni pada jaman dahulu.
Definisi
seni menjadi semakin rumit dengan munculnya karya seni kontemporer yang tak
terduga dan terkesan mengejek parameter seni yang sudah ada, karya tersebut
ialah ‘The Fountain’ oleh Marchel
Duchamp, berupa bekas tempat kencing untuk dipamerkan di museum. Secara tak
langsung, seni pun mengalami krisis kewibawaannya.
Perenungan ‘seni’ dan ‘estetika’ berlangsung semenjak
jaman filsafat Yunani. Istilah ‘seni murni’ muncul sejak 2500-an tahun yang
lalu (Renaisan 15 M), berasal dari Kaum Umanisti yang melakukan kegiatan
kontemplatif, yaitu perenungan yang terjadi didalam diri individu. Baru pada
abad ke-18, istilah ‘estetika’ dicetuskan oleh Baumgarten yang nantinya
dikembangkan oleh Immanuel Kant. Immanuel Kant lalu menggunakan estetika
sebagai medan persepsi keindahan melalui indera, terutama lewat karya seni.
Selanjutnya muncullah berbagai
anggapan mengenai karya seni. Contoh, Filsafat Hege, 2 perspektif fenomena seni
oleh Nietzsche, Clive Bell, Roger Fry, dsb). Dalam Filsafat Hegel, seni itu menuju
Ruh Absolut. Seni mengungkapkan / melukis lingkungan orang lain dan diri
sendiri. Pada perkembangannya, Ruh tersebut melahirkan efek-efek sepanjang
sejarah yang memungkinkan Ruh itu untuk merenungkan tindakan-tindakannya
sendiri.
Menurut Nietzsche, ada perspektif
Dionysian dan Apollonian. Dionysian, menganggap bahwa seni adalah pengalaman
kemabukan yang membuat seseorang bisa melihat sekelebat kebenaran dalam dalam
pengalaman yang sublim. Sedangkan Apollonian, dianggapnya bahwa seni merupakan
permainan permukaan yang ilusoris, palsu, dan penuh dengan kebohongan yang
disucikan untuk memperindah hidup, supaya hidup dapat tertanggungkan.
Dalam seni, ada 3
komponen penting yaitu perupa, karya, dan penikmat. Seorang perupa menciptakan
suatu karya, dimulai dengan mencari jalan mengenai bagaimana caranya untuk
dapat merasakan sesuatu. Terdapat proses didalam masa pencarian pengalaman seni
yang tersusun dari pengalaman memiliki perasaan.
Manusia memiliki 4 daya/impuls dalam hidup, yang merupakan urusan manusia dalam kehidupan. Ketuhanan, kebaikan, kebenaran, dan keindahan (estetika) adalah keempat komponennya. Penjelasannya, estetika terdiri dari dua objek, yaitu alam yang merupakan buatan Tuhan, dan objek buatan manusia (artistik). Estetika menimbulkan suatu rasa haru, yang mencuat dari dalam diri penikmatnya. Daya-daya tadi, dapat tumbuh dan berkembang dengan cara pengajaran dan pengalaman. Mencerdaskan rasa yang dimiliki oleh peserta didik contohnya, adalah suatu alasan mengapa ada pendidikan seni di sekolah, karena pendidikan seni adalah pendidikan hati.
Seni itu spirit, yang luar biasa. Seni itu bahasa yang tidak biasa, menjlentrehkan yang tidak bisa dijelaskan dengan verbal. Seni selalu berbagi keindahan/perasaan pada orang lain, istilahnya menyalurkan rasa dan persepsi seperti listrik yang nyetrum. Seperti yang dikatakan oleh Scott McCloud (1993), bahwa setiap MEDIA (istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti TENGAH) berfungsi sebagai jembatan ANTARA pikiran kita dengan pikiran orang lain. Sehingga disini, media adalah penyusun suatu karya seni yang menunjukkan estetika karya tersebut melalui instrumen-instrumen estetiknya untuk disalurkan kepada penikmat/pengamat seni melalui indera pengelihatan dan pendengaran. Tujuan akhirnya adalah, menyalurkan rasa yang dirasakan perupa, dalam kata lain, supaya penikmat mendapatkan perasaan sedemikian rupa dikarenakan sebuah karya seni.
Manusia memiliki 4 daya/impuls dalam hidup, yang merupakan urusan manusia dalam kehidupan. Ketuhanan, kebaikan, kebenaran, dan keindahan (estetika) adalah keempat komponennya. Penjelasannya, estetika terdiri dari dua objek, yaitu alam yang merupakan buatan Tuhan, dan objek buatan manusia (artistik). Estetika menimbulkan suatu rasa haru, yang mencuat dari dalam diri penikmatnya. Daya-daya tadi, dapat tumbuh dan berkembang dengan cara pengajaran dan pengalaman. Mencerdaskan rasa yang dimiliki oleh peserta didik contohnya, adalah suatu alasan mengapa ada pendidikan seni di sekolah, karena pendidikan seni adalah pendidikan hati.
Seni itu spirit, yang luar biasa. Seni itu bahasa yang tidak biasa, menjlentrehkan yang tidak bisa dijelaskan dengan verbal. Seni selalu berbagi keindahan/perasaan pada orang lain, istilahnya menyalurkan rasa dan persepsi seperti listrik yang nyetrum. Seperti yang dikatakan oleh Scott McCloud (1993), bahwa setiap MEDIA (istilah ini berasal dari bahasa Latin yang berarti TENGAH) berfungsi sebagai jembatan ANTARA pikiran kita dengan pikiran orang lain. Sehingga disini, media adalah penyusun suatu karya seni yang menunjukkan estetika karya tersebut melalui instrumen-instrumen estetiknya untuk disalurkan kepada penikmat/pengamat seni melalui indera pengelihatan dan pendengaran. Tujuan akhirnya adalah, menyalurkan rasa yang dirasakan perupa, dalam kata lain, supaya penikmat mendapatkan perasaan sedemikian rupa dikarenakan sebuah karya seni.
Kutipan dari Jujun S.
Suriasumantri (2017), seni mengungkapkan suka duka dan pahit getir eksistensi
manusia dalam kehidupannya. Tujuan akhir seni, ialah menyimpulkan nilai-nilai
kemanusiaan yang universal. Akhir kata, seni adalah keindahan yang terpendam dalam
lumpur kehidupan fana.



